Menggubah Mazmur

Mazmur, yang asal kata salah satunya dari bahasa Yunani (Psalmoi) yang artinya kumpulan nyanyian yang diiringi dengan rebab (instrumen).
Jika sebelumnya beberapa gereja, GKI, salah satunya gereja saya, membawakan Mazmur dengan dibacakan secara responsoris. Padahal jika dilihat dari asal katanya, Mazmur itu dilakukan dengan cara dinyanyikan.
Oleh karena itu, kebiasaan untuk menyanyikan Mazmur sudah mulai gencar disosialisasikan. Hingga bukunya pun sudah tersedia supaya memudahkan para jemaat untuk menyanyikannya.
Memang kenapa sih harus dinyanyikan ?
St. Agustinus mengatakan “A man who sings,pray twice”
karena disaat kita menyanyi, bukan hanya suara saja yang berdoa, tetapi juga emosi kita turut berdoa
Halnya dengan Mazmur, ayat-ayat yang ada merupakan suatu nyanyian yang ditujukan kepada Tuhan, setidaknya ada 2 alasan mengapa kita menyanyikan Mazmur
1. Supaya kita selalu ingat akan karya Tuhan yang telah kita alami.
Di tengah masalah yang kita hadapi, kita tetap bersyukur, karena dibalik semua kejadian yang kita alami, ada tangan Tuhan yang selalu menopang
2. Supaya kita bisa ‘curhat’ dengan Tuhan ditiap situasi kehidupan yang kita jalani.
Dengan menyanyikan Mazmur, kita bisa mengekpresikan jiwa, emosi yang sedang kita alami dengan lebih sehat

Nah, melihat alasan-alasan tersebut, hingga kini para penggubah Mazmur masih terus berusaha menggubah ayat-ayat dalam kitab Mazmur itu menjadi suatu nyanyian yang dapat dibawakan secara responsorial bersama Jemaat.
Bagaimana proses menggubah suatu Mazmur ?
Dalam workshop Mazmur yang saya ikuti, beberapa panduan yang dipakai dalam menggubah mazmur-mazmur ini antara lain:
1. Melodinya sederhana ; jemaat menyanyikan bagian refreinnya, oleh karena itu dibuat sesederhana mungkin. Caranya mengetahui kesederhanaan melodi, salah satunya adalah ketika jemaat bisa diajarkan melodi tersebut 1x saja. Untuk bait-baitnya (yang dinyanyikan oleh seorang Cantor) diupayakan mudah dicerna oleh jemaat
2. Syairnya diupayakan setia pada Alkitab LAI ; meskipun ada beberapa bagian kecil yang diubah karena adanya persoalan aksentuasi dan pertimbangan lain yang berhubungan dengan musik.
3. Konteksnya mengikuti Leksionari ; artinya bahwa syair Mazmur yang dipakai mengikuti leksionari,sehingga tidak seluruh ayat dipakai. Juga perhatikan kaitannya dengan Bacaan Pertama alkitab,karena Mazmur merupakan respon dari bacaan tersebut
4. Pemenggalan bait-baitnya diupayakan mengikuti unit/unit-unit makna yang terdapat dalam syair Mazmur
5. Pada bait-bait mazmur dimungkinkan adanya penambahan atau pengurangan melodi sehingga bersifat dinamis, mengikuti teks Mazmur yang dimasukkan

Demikian beberapa panduan dalam menggubah suatu Mazmur, jika ada yang memiliki talenta untuk menggubah, harap diperhatikan panduan-panduan tersebut. Karena menggubah suatu Mazmur tidak sama dengan menggubah suatu lagu pop rohani yang kini beredar di jemaat kita

Semoga bermanfaat
God bless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: