Penyanyi perlu bisa Make-up atau Dandan?? 

Topik yang mau aku tulis masih berhubungan dengan kegiatanku sebagai penyanyi

Seorang penyanyi professional perlu bisa makeup or dandan sendiri nggak sih? 

Jawaban singkat aku sih : It’s a must! 

Kenapa harus? 

1. Aku sebagai penyanyi profesional yang masih merintis, belum punya Makeup Artist sendiri dong (emang sanggup bayar?) 

2. Dengan jam terbang tampilan yang bisa dibilang cukup banyak, nggak mungkin aku selalu minta bantuan Salon dong, bisa habis Dana berapa? Bayaran sbg penyanyi bisa habis buat Salon doang hehhehe

3. Masih sekitaran Salon, kalau jam event kita pagi-pagi banget or even subuh, nggak mungkin kita booking Salon untuk ngurusin kita yang cuma Makeup aja kan? 

4. Kita yang kenal dengan bentuk dan warna kulit kita, sehingga kita bisa bereksperimen, ganti-ganti style dandanan sesuai event or kebutuhan 

Susah nggak sih makeup/dandan sendiri, kalau kita nggak biasa dandan sendiri bagaimana? 

girls, ladies… sekarang kan udah bejubel banget tutorial makeup, dari yang mancanegara sampai yang lokasi bisa kita temuin di berbagai sosial media. 

So, bisa banget kita belajar lewat sosial media tersebut

Dan yang paling penting, practice makes perfect, jadi jangan ragu buat praktekin tutorial makeup itu

Palingan kita hanya modal alat dan semua keperluan  makeup yang biasa dipakai untuk tampil. 

Jadi, untuk kamu yang mulai merintis sebagai penyanyi, jangan lupa praktekin Makeup ya?

Semoga bermanfaat 

Sharing is good 

Advertisements

Voice of Indonesia by Rio Silaen 

Saat ini saya ingin memperkenalkan Management, tempat dimana saya menimba ilmu dalam performing arts. 

Mengapa performing? Karena kami di latih tidak hanya bagaimana menyanyi yang baik, tetapi juga menari dan akting, secara umum biasa di sebut ShowChoir

Saya sudah bergabung sejak tahun 2015 (sedang vakum blogging saat itu hehehehe)

Saya yang berasal dari penyanyi gereja, dengan kekakuan dan keterbatasan dalam. hal hiburan, disini saya diajarkan lebih lagi.

Dengan Rio Silaen sebagai pelatih dan mentor saya, kami diajarkan bagaimana penampilan kita dapat menghibur setiap orang yang menonton pertunjukkan kita.

Goodbye deh dengan keterbatasan dan kekakuan saat menyanyi, kita diajarkan apabila ingin menjadi penyanyi profesional, banyak hal yang harus kita eksplor. Kita tidak hanya mengandalkan suara saja tetapi keseluruhan penampilan juga harus diperhatikan, gesture, kostum, dandanan, semuanya harus sangat diperhatikan. 

Beberapa tampilan kami di Mall Mall Jakarta dan sekitarnya, acara perusahaan maupun instansi

Pengalaman ini lah yang mulai membentuk saya lebih lagi sebagai seorang penyanyi professional

Voice of Indonesia punya website yaitu http://www.voiceofindonesia.co.id dan juga akun Instagram di @riosilaen

Sharing is good

Alisa (@mslisakarla on IG) 

Hello, I’m back to My Blog 

Hai semua pecinta musik

Saya kembali lagi untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan saya mengenai musik, sepanjang yang saya tekuni sekarang 

Saat ini saya masih bergabung dengan salah satu Talent Management dalam bidang Performing Arts dengan nama Voice of Indonesia by Rio Silaen 

oh Iya, saya juga punya akun Instagram @mslisakarla dan YouTube channel di Alisa Karla 
you can check, follow and subscribe anytime 

thank you dan nanti kan tulisan dari saya

#singer #performers #alisakarla #musicblog #blogger 

Berjuang mengenali passionku

Kenapa aku menulis judul ini?
Beberapa hari belakangan ini aku mulai merasa jenuh untuk menjadi pelatih Paduan Suara
Awalnya aku melatih 2 paduan suara, tetapi sudah 1 paduan suara aku lepas
Aku merasa bahwa aku tidak lagi merasakan kenikmatan, antusiasme diri untuk melatih para anggota paduan suara. Aku merasa aku kurang diapresiasi oleh para anggota.
Aku juga merasa,aku ingin menjadi penyanyi, bukan pelatih. Selama ini orang-orang melihatku memiliki kemampuan yang kuakui kuperoleh secara otodidak, tetapi hasrat yang dulu aku punya sekarang sudah jauh berkurang.
Masih 1 paduan suara lagi yang kupimpin, tetapi aku tidak lagi merasakan semangat dan antusias untuk melatih mereka.
Aku mencintai musik,sangat. Tapi aku mulai tidak ingin menjadi pelatih paduan suara. Aku ingin menyanyi,aku ingin lebih mendalami kemampuanku dalam bernyanyi.
Sejenuh apapun aku, tapi tetap musik menjadi passionku,untuk bernyanyi
Ketika kita mencintai sesuatu,kita pasti semangat untuk menjalaninya, termasuk menjadi pelatih.
Yang terjadi pada diriku, aku tidak lagi mencintai untuk menjadi pelatih, semangat itupun ikut menurun.
Aku harus terus mengenali dan memantapkan passionku

Latihan Paduan Suara yang efektif

Dalam menyusun suatu program latihan paduan suara,mulailah secara bertahap, seperti berikut ini :
– Ada suatu tips dalam latihan paduan suara, selesaikanlah dahulu level-1 baru kemudian ke level-2,dan seterusnya, yang dimaksud adalah janganlah kita mengajarkan level-2 dari suatu materi apabila anggota belum semuanya lulus di materi level-1,karena hal ini dapat memecah konsentrasi
– Kelompok paduan suara ibarat rangkaian gerbong kereta api. Apabila salah satu gerbong tersendat,maka gerbong yang lain kecepatannya terpaksa ikut melambat untuk menyesuaikan kecepatan gerbong yang tersendat tadi.
Perbaikilah gerbong (dalam hal ini kelompok suara) yang lemah (tersendat) dahulu,baru kelompok gerbong lainnya.
– Awali latihan dengan vokalisi terlebih dahulu, sesuai dengan karakter lagu yang akan dinyanyikan. Jika lagu akan banyak menggunakan staccato,perbanyak vokalisi staccato. Jika lagu banyak memakai nada panjang,perbanyak vokalisi nada panjang
– Tekankan anggota untuk membaca not, jangan MENGHAFAL not. Karena kemampuan membaca sangat diperlukan dalam paduan suara. Setelah anggota dapat menyanyikan notas dengan benar, tekankan untuk menghafal syair

Demikian beberapa efektivitas dalam berlatih paduan suara
Semoga bermanfaat

feel free to ask about choir and music to me

Cantor : Definisi,Tugas,dan Syaratnya

Tulisan ini merupakan hasil Workshop di GKI Peterongan oleh David Alexander Aden, dan kemudian saya akan bagikan kepada semua blogreader

Cantor/Precentor/Protopsaltes (Gr. πρωτοψάλτης, “first of the singers”; from Gr. ψάλτης, “singer”; Latin.Cantare, “to sing”.) dalam tradisi kekristenan adalah penyanyi utama, biasanya juga seorang instruktur yang dipekerjakan di katedral/biara dengan tanggung jawab memimpin nyanyian dalam liturgi ibadah Minggu, termasuk di dalamnya mazmur responsorial.
Dalam tradisi keagamaan lain juga dikenal tugas serupa dengan seorang Cantor, antara lain Islam (Qori/Qoriah), Yahudi (Hazzan/Chazzan), Katolik Roma, dan Kristen Ortodoks. Tugasnya serupa dalam hal materi yang dinyanyikan, yaitu isi kitab – dalam hal ini di gereja kita adalah Kitab Mazmur.
DI gereja, GKI khususnya, seorang cantor bertugas untuk memimpin nyanyian umat dan menyanyikan mazmur responsorial dengan cara antifonal (bergantian) bersama jemaat.
Dua tugas penting pelayanan yang diemban seorang cantor :
1. Menghidupkan (animation) nyanyian umat
Tugas menghidupkan/memimpin nyanyian umat tidak diemban secara khusus oleh seorang cantor, tetapi bisa juga oleh paduan suara pengiring jemaat – kecuali apabila dalam ibadah tersebut tidak ada paduan suara yang bertugas. Tugas seorang cantor di ibadah Minggu selain menghidupkan nyanyian umat juga untuk menyanyikan (proclamation) mazmur responsorial bersama jemaat.
2. Menyatakan (proclamation) Firman Tuhan (mazmur responsorial)
Tugas cantor untuk menyatakan Firman Tuhan inilah yang membuat keberadaannya dan keterampilannya menjadi sangat esensial. Tugas yang setara dengan seorang lektor yang juga menjadi pembaca dari bagian Firman Tuhan dalam kebaktian Minggu. Cantor mempunyai hak istimewa yang unik, yaitu menghidupkan nyanyian dari Alkitab dalam bentuk mazmur responsorial.
Syair Mazmur, walaupun telah dituliskan ribuan tahun yang lalu dalam latar budaya Yahudi-Kristen kuno, mengandung makna kebenaran Allah yang sangat sangat besar kuasanya, sekaligus sangat dekat dengan kehidupan pribadi kita hari lepas hari. Sering kali, mazmur hanya dibacakan atau dinyanyikan tanpa perasaan, pemahaman, bahkan musikalitas yang memadai. Seorang cantor yang telah mempersiapkan diri dengan baik akan mampu menampilkan/me-reka ulang betapa dahsyatnya teks doa dan nyanyian kuno tersebut dalam ibadah Minggu.
Teks mazmur adalah bagian dari sebuah budaya yang berumur ribuan tahun sejak pertama kali dituliskan di bawah tuntunan inspirasi Allah. Seberapa dalam kita dapat menghayatinya apabila teks ini hanya dibacakan dengan datar, atau bahkan dinyanyikan dengan sembarangan tanpa persiapan yang memadai?
Apabila dipadankan dengan musik yang indah, dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, dan ditampilkan dengan segenap hati, syair mazmur dapat hidup kembali dan menggetarkan hati jemaat yang mendengarkan dan menyanyikannya. Inilah bagian dari kewajiban pelayanan seorang cantor mazmur.
Syarat seorang Cantor
1. Syarat Personal
Syarat yang sangat mendasar, yaitu seorang Cantor haruslah seorang yang beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Tanpa dasar ini dan tanpa kerinduan untuk bertumbuh dalam iman Kristiani, maka pelayanan ini hanya akan menjadi sebuah penampilan panggung dunia, sebuah parodi pelayanan. Idealnya, seorang cantor adalah seorang jemaat/aktifis yang sanggup berkomitmen dan berdedikasi tinggi terhadap pelayanan ini, dan memiliki kehidupan kerohanian yang terus bertumbuh dan dapat dipertanggungjawabkan.
Seorang cantor sebaiknya memiliki pembawaan yang ramah dan tulus. Pembawaan ramah dan tulus dari seorang cantor akan tampak dalam kehidupan kesehariannya, ketika berelasi dengan jemaat di luar jam ibadah. Apabila jemaat dapat merasakan hal ini, maka respon penerimaan jemaat terhadap pelayanan seorang cantor akan sangat baik.
Syarat lainnya adalah percaya diri dan ketenangan yang membantu seorang cantor untuk menjadi dirinya sendiri ketika melayani. Fleksibilitas dan kemampuan untuk berempati akan membantu mempermudah seorang cantor beradaptasi apabila terjadi sebuah kesalahan pada saat-saat genting. Seorang cantor haruslah seseorang yang dapat diandalkan. Pembawaan diri di depan umum seorang cantor sebaiknya dapat membuat seluruh jemaat merasa nyaman, percaya diri, dan penuh perhatian.
Seorang cantor haruslah seorang yang bersedia – bersedia belajar, bersedia berlatih, bersedia mendengarkan kritik yang membangun, bersedia mempersiapkan dengan serius setiap tanggung jawab pelayanan yang dipercayakan kepadanya.

2. Syarat Musikal
Seperti halnya pelayanan yang lain, pelayanan seorang Cantor adalah pelayanan yang unik. Pelayanan ini membutuhkan talenta khusus dan komitmen yang besar. Pelayanan ini bersifat musikal, liturgikal, dan pastoral – berakar pada tradisi tetapi disajikan di nuansa kekinian.
Seorang cantor mazmur dituntut untuk memiliki suara yang kuat, merdu, dan jelas. Kuat artinya memiliki volume dan intensitas yang memadai, tetapi tidak mendominasi, apalagi mengintimidasi. Merdu artinya suaranya memiliki warna yang enak didengar, ketepatan nada yang presisi, dan musikalitas yang memadai sehingga dapat menunjang penyampaian mazmur (ekpresif, dinamika, gerakan musik, dan lain sebagainya). Jelas berarti memiliki artikulasi pengucapan yang jelas – sehingga isi dari mazmur tersampaikan dengan baik.
Kemampuan untuk membaca notasi dengan baik, mengikuti ritme dengan stabil, mempelajari lafal dengan baik, dan pengetahuan umum musik yang memadai akan sangat mendukung persiapan pelayanan cantor mazmur.
Seorang cantor mazmur tidak sekedar seseorang yang muncul tiba-tiba tanpa persiapan dari antara anggota paduan suara. Anggota paduan suara memiliki pelayanan yang khusus dan jelas, yang walaupun berhubungan, tetapi tidak sama dengan pelayanan seorang cantor mazmur. Walaupun tidak semua anggota paduan suara memiliki talenta untuk menjadi cantor mazmur, tetapi dengan latian persiapan khusus, seorang anggota paduan suara dapat dipersiapkan untuk menjadi seorang cantor mazmur.

Inilah beberapa informasi mengenai definisi, tugas, dan syarat sebagai seorang Cantor, apabila anda terpanggil untuk menjadi seorang Cantor, sudah sesuaikah anda dengan syarat-syarat tersebut diatas ?
Semoga pelayanan kita, apapun tugas yang diemban, kiranya dapat memuji nama Tuhan
Selamat melayani DIA

Menggubah Mazmur

Mazmur, yang asal kata salah satunya dari bahasa Yunani (Psalmoi) yang artinya kumpulan nyanyian yang diiringi dengan rebab (instrumen).
Jika sebelumnya beberapa gereja, GKI, salah satunya gereja saya, membawakan Mazmur dengan dibacakan secara responsoris. Padahal jika dilihat dari asal katanya, Mazmur itu dilakukan dengan cara dinyanyikan.
Oleh karena itu, kebiasaan untuk menyanyikan Mazmur sudah mulai gencar disosialisasikan. Hingga bukunya pun sudah tersedia supaya memudahkan para jemaat untuk menyanyikannya.
Memang kenapa sih harus dinyanyikan ?
St. Agustinus mengatakan “A man who sings,pray twice”
karena disaat kita menyanyi, bukan hanya suara saja yang berdoa, tetapi juga emosi kita turut berdoa
Halnya dengan Mazmur, ayat-ayat yang ada merupakan suatu nyanyian yang ditujukan kepada Tuhan, setidaknya ada 2 alasan mengapa kita menyanyikan Mazmur
1. Supaya kita selalu ingat akan karya Tuhan yang telah kita alami.
Di tengah masalah yang kita hadapi, kita tetap bersyukur, karena dibalik semua kejadian yang kita alami, ada tangan Tuhan yang selalu menopang
2. Supaya kita bisa ‘curhat’ dengan Tuhan ditiap situasi kehidupan yang kita jalani.
Dengan menyanyikan Mazmur, kita bisa mengekpresikan jiwa, emosi yang sedang kita alami dengan lebih sehat

Nah, melihat alasan-alasan tersebut, hingga kini para penggubah Mazmur masih terus berusaha menggubah ayat-ayat dalam kitab Mazmur itu menjadi suatu nyanyian yang dapat dibawakan secara responsorial bersama Jemaat.
Bagaimana proses menggubah suatu Mazmur ?
Dalam workshop Mazmur yang saya ikuti, beberapa panduan yang dipakai dalam menggubah mazmur-mazmur ini antara lain:
1. Melodinya sederhana ; jemaat menyanyikan bagian refreinnya, oleh karena itu dibuat sesederhana mungkin. Caranya mengetahui kesederhanaan melodi, salah satunya adalah ketika jemaat bisa diajarkan melodi tersebut 1x saja. Untuk bait-baitnya (yang dinyanyikan oleh seorang Cantor) diupayakan mudah dicerna oleh jemaat
2. Syairnya diupayakan setia pada Alkitab LAI ; meskipun ada beberapa bagian kecil yang diubah karena adanya persoalan aksentuasi dan pertimbangan lain yang berhubungan dengan musik.
3. Konteksnya mengikuti Leksionari ; artinya bahwa syair Mazmur yang dipakai mengikuti leksionari,sehingga tidak seluruh ayat dipakai. Juga perhatikan kaitannya dengan Bacaan Pertama alkitab,karena Mazmur merupakan respon dari bacaan tersebut
4. Pemenggalan bait-baitnya diupayakan mengikuti unit/unit-unit makna yang terdapat dalam syair Mazmur
5. Pada bait-bait mazmur dimungkinkan adanya penambahan atau pengurangan melodi sehingga bersifat dinamis, mengikuti teks Mazmur yang dimasukkan

Demikian beberapa panduan dalam menggubah suatu Mazmur, jika ada yang memiliki talenta untuk menggubah, harap diperhatikan panduan-panduan tersebut. Karena menggubah suatu Mazmur tidak sama dengan menggubah suatu lagu pop rohani yang kini beredar di jemaat kita

Semoga bermanfaat
God bless