Berjuang mengenali passionku

Kenapa aku menulis judul ini?
Beberapa hari belakangan ini aku mulai merasa jenuh untuk menjadi pelatih Paduan Suara
Awalnya aku melatih 2 paduan suara, tetapi sudah 1 paduan suara aku lepas
Aku merasa bahwa aku tidak lagi merasakan kenikmatan, antusiasme diri untuk melatih para anggota paduan suara. Aku merasa aku kurang diapresiasi oleh para anggota.
Aku juga merasa,aku ingin menjadi penyanyi, bukan pelatih. Selama ini orang-orang melihatku memiliki kemampuan yang kuakui kuperoleh secara otodidak, tetapi hasrat yang dulu aku punya sekarang sudah jauh berkurang.
Masih 1 paduan suara lagi yang kupimpin, tetapi aku tidak lagi merasakan semangat dan antusias untuk melatih mereka.
Aku mencintai musik,sangat. Tapi aku mulai tidak ingin menjadi pelatih paduan suara. Aku ingin menyanyi,aku ingin lebih mendalami kemampuanku dalam bernyanyi.
Sejenuh apapun aku, tapi tetap musik menjadi passionku,untuk bernyanyi
Ketika kita mencintai sesuatu,kita pasti semangat untuk menjalaninya, termasuk menjadi pelatih.
Yang terjadi pada diriku, aku tidak lagi mencintai untuk menjadi pelatih, semangat itupun ikut menurun.
Aku harus terus mengenali dan memantapkan passionku

Latihan Paduan Suara yang efektif

Dalam menyusun suatu program latihan paduan suara,mulailah secara bertahap, seperti berikut ini :
– Ada suatu tips dalam latihan paduan suara, selesaikanlah dahulu level-1 baru kemudian ke level-2,dan seterusnya, yang dimaksud adalah janganlah kita mengajarkan level-2 dari suatu materi apabila anggota belum semuanya lulus di materi level-1,karena hal ini dapat memecah konsentrasi
– Kelompok paduan suara ibarat rangkaian gerbong kereta api. Apabila salah satu gerbong tersendat,maka gerbong yang lain kecepatannya terpaksa ikut melambat untuk menyesuaikan kecepatan gerbong yang tersendat tadi.
Perbaikilah gerbong (dalam hal ini kelompok suara) yang lemah (tersendat) dahulu,baru kelompok gerbong lainnya.
– Awali latihan dengan vokalisi terlebih dahulu, sesuai dengan karakter lagu yang akan dinyanyikan. Jika lagu akan banyak menggunakan staccato,perbanyak vokalisi staccato. Jika lagu banyak memakai nada panjang,perbanyak vokalisi nada panjang
– Tekankan anggota untuk membaca not, jangan MENGHAFAL not. Karena kemampuan membaca sangat diperlukan dalam paduan suara. Setelah anggota dapat menyanyikan notas dengan benar, tekankan untuk menghafal syair

Demikian beberapa efektivitas dalam berlatih paduan suara
Semoga bermanfaat

feel free to ask about choir and music to me

Cantor : Definisi,Tugas,dan Syaratnya

Tulisan ini merupakan hasil Workshop di GKI Peterongan oleh David Alexander Aden, dan kemudian saya akan bagikan kepada semua blogreader

Cantor/Precentor/Protopsaltes (Gr. πρωτοψάλτης, “first of the singers”; from Gr. ψάλτης, “singer”; Latin.Cantare, “to sing”.) dalam tradisi kekristenan adalah penyanyi utama, biasanya juga seorang instruktur yang dipekerjakan di katedral/biara dengan tanggung jawab memimpin nyanyian dalam liturgi ibadah Minggu, termasuk di dalamnya mazmur responsorial.
Dalam tradisi keagamaan lain juga dikenal tugas serupa dengan seorang Cantor, antara lain Islam (Qori/Qoriah), Yahudi (Hazzan/Chazzan), Katolik Roma, dan Kristen Ortodoks. Tugasnya serupa dalam hal materi yang dinyanyikan, yaitu isi kitab – dalam hal ini di gereja kita adalah Kitab Mazmur.
DI gereja, GKI khususnya, seorang cantor bertugas untuk memimpin nyanyian umat dan menyanyikan mazmur responsorial dengan cara antifonal (bergantian) bersama jemaat.
Dua tugas penting pelayanan yang diemban seorang cantor :
1. Menghidupkan (animation) nyanyian umat
Tugas menghidupkan/memimpin nyanyian umat tidak diemban secara khusus oleh seorang cantor, tetapi bisa juga oleh paduan suara pengiring jemaat – kecuali apabila dalam ibadah tersebut tidak ada paduan suara yang bertugas. Tugas seorang cantor di ibadah Minggu selain menghidupkan nyanyian umat juga untuk menyanyikan (proclamation) mazmur responsorial bersama jemaat.
2. Menyatakan (proclamation) Firman Tuhan (mazmur responsorial)
Tugas cantor untuk menyatakan Firman Tuhan inilah yang membuat keberadaannya dan keterampilannya menjadi sangat esensial. Tugas yang setara dengan seorang lektor yang juga menjadi pembaca dari bagian Firman Tuhan dalam kebaktian Minggu. Cantor mempunyai hak istimewa yang unik, yaitu menghidupkan nyanyian dari Alkitab dalam bentuk mazmur responsorial.
Syair Mazmur, walaupun telah dituliskan ribuan tahun yang lalu dalam latar budaya Yahudi-Kristen kuno, mengandung makna kebenaran Allah yang sangat sangat besar kuasanya, sekaligus sangat dekat dengan kehidupan pribadi kita hari lepas hari. Sering kali, mazmur hanya dibacakan atau dinyanyikan tanpa perasaan, pemahaman, bahkan musikalitas yang memadai. Seorang cantor yang telah mempersiapkan diri dengan baik akan mampu menampilkan/me-reka ulang betapa dahsyatnya teks doa dan nyanyian kuno tersebut dalam ibadah Minggu.
Teks mazmur adalah bagian dari sebuah budaya yang berumur ribuan tahun sejak pertama kali dituliskan di bawah tuntunan inspirasi Allah. Seberapa dalam kita dapat menghayatinya apabila teks ini hanya dibacakan dengan datar, atau bahkan dinyanyikan dengan sembarangan tanpa persiapan yang memadai?
Apabila dipadankan dengan musik yang indah, dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, dan ditampilkan dengan segenap hati, syair mazmur dapat hidup kembali dan menggetarkan hati jemaat yang mendengarkan dan menyanyikannya. Inilah bagian dari kewajiban pelayanan seorang cantor mazmur.
Syarat seorang Cantor
1. Syarat Personal
Syarat yang sangat mendasar, yaitu seorang Cantor haruslah seorang yang beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Tanpa dasar ini dan tanpa kerinduan untuk bertumbuh dalam iman Kristiani, maka pelayanan ini hanya akan menjadi sebuah penampilan panggung dunia, sebuah parodi pelayanan. Idealnya, seorang cantor adalah seorang jemaat/aktifis yang sanggup berkomitmen dan berdedikasi tinggi terhadap pelayanan ini, dan memiliki kehidupan kerohanian yang terus bertumbuh dan dapat dipertanggungjawabkan.
Seorang cantor sebaiknya memiliki pembawaan yang ramah dan tulus. Pembawaan ramah dan tulus dari seorang cantor akan tampak dalam kehidupan kesehariannya, ketika berelasi dengan jemaat di luar jam ibadah. Apabila jemaat dapat merasakan hal ini, maka respon penerimaan jemaat terhadap pelayanan seorang cantor akan sangat baik.
Syarat lainnya adalah percaya diri dan ketenangan yang membantu seorang cantor untuk menjadi dirinya sendiri ketika melayani. Fleksibilitas dan kemampuan untuk berempati akan membantu mempermudah seorang cantor beradaptasi apabila terjadi sebuah kesalahan pada saat-saat genting. Seorang cantor haruslah seseorang yang dapat diandalkan. Pembawaan diri di depan umum seorang cantor sebaiknya dapat membuat seluruh jemaat merasa nyaman, percaya diri, dan penuh perhatian.
Seorang cantor haruslah seorang yang bersedia – bersedia belajar, bersedia berlatih, bersedia mendengarkan kritik yang membangun, bersedia mempersiapkan dengan serius setiap tanggung jawab pelayanan yang dipercayakan kepadanya.

2. Syarat Musikal
Seperti halnya pelayanan yang lain, pelayanan seorang Cantor adalah pelayanan yang unik. Pelayanan ini membutuhkan talenta khusus dan komitmen yang besar. Pelayanan ini bersifat musikal, liturgikal, dan pastoral – berakar pada tradisi tetapi disajikan di nuansa kekinian.
Seorang cantor mazmur dituntut untuk memiliki suara yang kuat, merdu, dan jelas. Kuat artinya memiliki volume dan intensitas yang memadai, tetapi tidak mendominasi, apalagi mengintimidasi. Merdu artinya suaranya memiliki warna yang enak didengar, ketepatan nada yang presisi, dan musikalitas yang memadai sehingga dapat menunjang penyampaian mazmur (ekpresif, dinamika, gerakan musik, dan lain sebagainya). Jelas berarti memiliki artikulasi pengucapan yang jelas – sehingga isi dari mazmur tersampaikan dengan baik.
Kemampuan untuk membaca notasi dengan baik, mengikuti ritme dengan stabil, mempelajari lafal dengan baik, dan pengetahuan umum musik yang memadai akan sangat mendukung persiapan pelayanan cantor mazmur.
Seorang cantor mazmur tidak sekedar seseorang yang muncul tiba-tiba tanpa persiapan dari antara anggota paduan suara. Anggota paduan suara memiliki pelayanan yang khusus dan jelas, yang walaupun berhubungan, tetapi tidak sama dengan pelayanan seorang cantor mazmur. Walaupun tidak semua anggota paduan suara memiliki talenta untuk menjadi cantor mazmur, tetapi dengan latian persiapan khusus, seorang anggota paduan suara dapat dipersiapkan untuk menjadi seorang cantor mazmur.

Inilah beberapa informasi mengenai definisi, tugas, dan syarat sebagai seorang Cantor, apabila anda terpanggil untuk menjadi seorang Cantor, sudah sesuaikah anda dengan syarat-syarat tersebut diatas ?
Semoga pelayanan kita, apapun tugas yang diemban, kiranya dapat memuji nama Tuhan
Selamat melayani DIA

Menggubah Mazmur

Mazmur, yang asal kata salah satunya dari bahasa Yunani (Psalmoi) yang artinya kumpulan nyanyian yang diiringi dengan rebab (instrumen).
Jika sebelumnya beberapa gereja, GKI, salah satunya gereja saya, membawakan Mazmur dengan dibacakan secara responsoris. Padahal jika dilihat dari asal katanya, Mazmur itu dilakukan dengan cara dinyanyikan.
Oleh karena itu, kebiasaan untuk menyanyikan Mazmur sudah mulai gencar disosialisasikan. Hingga bukunya pun sudah tersedia supaya memudahkan para jemaat untuk menyanyikannya.
Memang kenapa sih harus dinyanyikan ?
St. Agustinus mengatakan “A man who sings,pray twice”
karena disaat kita menyanyi, bukan hanya suara saja yang berdoa, tetapi juga emosi kita turut berdoa
Halnya dengan Mazmur, ayat-ayat yang ada merupakan suatu nyanyian yang ditujukan kepada Tuhan, setidaknya ada 2 alasan mengapa kita menyanyikan Mazmur
1. Supaya kita selalu ingat akan karya Tuhan yang telah kita alami.
Di tengah masalah yang kita hadapi, kita tetap bersyukur, karena dibalik semua kejadian yang kita alami, ada tangan Tuhan yang selalu menopang
2. Supaya kita bisa ‘curhat’ dengan Tuhan ditiap situasi kehidupan yang kita jalani.
Dengan menyanyikan Mazmur, kita bisa mengekpresikan jiwa, emosi yang sedang kita alami dengan lebih sehat

Nah, melihat alasan-alasan tersebut, hingga kini para penggubah Mazmur masih terus berusaha menggubah ayat-ayat dalam kitab Mazmur itu menjadi suatu nyanyian yang dapat dibawakan secara responsorial bersama Jemaat.
Bagaimana proses menggubah suatu Mazmur ?
Dalam workshop Mazmur yang saya ikuti, beberapa panduan yang dipakai dalam menggubah mazmur-mazmur ini antara lain:
1. Melodinya sederhana ; jemaat menyanyikan bagian refreinnya, oleh karena itu dibuat sesederhana mungkin. Caranya mengetahui kesederhanaan melodi, salah satunya adalah ketika jemaat bisa diajarkan melodi tersebut 1x saja. Untuk bait-baitnya (yang dinyanyikan oleh seorang Cantor) diupayakan mudah dicerna oleh jemaat
2. Syairnya diupayakan setia pada Alkitab LAI ; meskipun ada beberapa bagian kecil yang diubah karena adanya persoalan aksentuasi dan pertimbangan lain yang berhubungan dengan musik.
3. Konteksnya mengikuti Leksionari ; artinya bahwa syair Mazmur yang dipakai mengikuti leksionari,sehingga tidak seluruh ayat dipakai. Juga perhatikan kaitannya dengan Bacaan Pertama alkitab,karena Mazmur merupakan respon dari bacaan tersebut
4. Pemenggalan bait-baitnya diupayakan mengikuti unit/unit-unit makna yang terdapat dalam syair Mazmur
5. Pada bait-bait mazmur dimungkinkan adanya penambahan atau pengurangan melodi sehingga bersifat dinamis, mengikuti teks Mazmur yang dimasukkan

Demikian beberapa panduan dalam menggubah suatu Mazmur, jika ada yang memiliki talenta untuk menggubah, harap diperhatikan panduan-panduan tersebut. Karena menggubah suatu Mazmur tidak sama dengan menggubah suatu lagu pop rohani yang kini beredar di jemaat kita

Semoga bermanfaat
God bless

C is The Major

Untuk teman-teman yang memutuskan untuk menjadi pelayan,khususnya dalam hal musik
Apapun yang kita lakukan,kita putuskan untuk kita jalani, tidak akan mulus untuk dijalani.
Ini saya alami, saya melihat juga dari pengalaman teman-teman sekitar.
Ketika kita memutuskan untuk melakukan pelayanan, baik sebagai penyanyi gereja, pemusik, maupun dalam paduan suara di gereja, kita tidak bisa mengharapkan semua berjalan mulus, sesuai dengan keinginan kita.
Justru ketika kita melayani, akan banyak benturan yang sebenarnya bisa mengembangkan diri kita, jika kita mau bertumbuh.
1. Kita berbenturan dengan birokrasi gereja yang terkadang tidak sesuai dengan harapan kita dalam melayani di gereja, tetapi mau tidak mau kita mengikuti prosedur yang ada
2. Kita berbenturan dengan jemaat, mungkin mereka menilai pelayanan kita kurang sungguh-sungguh, ada saja hal-hal (mungkin sepele) yang akan mereka nilai dari diri dan pelayanan kita
3. Kita berbenturan dengan teman sepelayanan, kita melihat mereka kurang sungguh-sungguh atau mungkin kita merasa bahwa semua tanggung jawab dilimpahkan ke kita
Mungkin masih banyak hal-hal lain yang jika kita biarkan terlalu lama akan menjad batu sandungan untuk kita.
Dari semua hal itu, sebenarnya kita melayani untuk apa sih?
Yang mau saya katakan kepada teman-teman sepelayanan adalah : C is the major
Dalam musik, nada C adalah nada dasar natural/netral, nada yang belum mengalami kenaikan maupun penurunan, menjadi nada mayor dalam bermusik.
C juga menjadi mayor dalam hal melayani
Christ : Dalam melayani, yang menjadi sentral adalah Yesus, yang kita puji,sembah, Tuhan Yesus menjadi pusat kita melayani. Kita melayani Dia, hanya untuk Dia, bukan untuk manusia
Commitment : Ketika kita terpanggil untuk melayani, kita harus memiliki komitmen, panggilan melayani merupakan tugas yang tidak ringan, butuh komitmen yang kuat untuk setia dan tekun melakukannya. Tanpa adanya komitmen, ketika terjadi benturan-benturan, sangat mudah bagi kita untuk meninggalkan semua tugas tersebut.

Begitulah menurut saya, Christ dan Commitment merupakan hal yang major (utama) dalam panggilan pelayanan kita, siapkah kita memikul salib dan mengikut Dia, serta berkomitmen penuh untuk melayani Dia

Jika kita masih ragu, berdoalah, minta kekuatan dari Tuhan agar diberi kekuatan untuk mengahadapi semua tanggung jawab yang akan kita emban

Happy to share
Selamat melayani Tuhan

Musik dan Penginjilan

Artikel ini aku tulis setelah aku menghadiri Pekan Doa di GKI Peterongan tgl 16 Mei 2013, dengan tema Penginjilan dalam Dunia Musik.
Dunia yang sangat dekat dengan diriku, dan untuk kebanyakan orang pastinya. Persekutuan ini dibawakan oleh Bpk David Aden, salah satu pelayan kategorial musik di gereja tersebut.
Mengenai Penginjilan dalam dunia musik, terlebih dahulu kita mengetahui apa itu MUSIK ?
Musik adalah untaian melodi, ritme,tekstur harmoni, dilengkapi dengan untaian syair. Sadar atau tidak sadar, musik ada disekitar kita dan ‘mengepung’ kehidupan kita.
Sebuah kisah mengenai 2 remaja, Jody Gater dan Stephanie Gestier, remaja asal Australia. Pada tahun 2007 mereka ditemukan tewas menggantung diri di salah satu taman terkenal di Australia. Setelah ditelusuri,salah satu penyebab remaja ini memutuskan bunuh diri adalah adanya pengaruh Musik Emo dalam kehidupan mereka. Musik Emo adalah musik yang mengedepankan keindahan dunia kekelaman, keputusasaan dan kesepian hidup. Suatu kisah yang tragis bagi remaja yang sebenarnya masih memiliki masa depan yang cemerlang, tetapi karena dipengaruhi Musik,mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka.
Terlihat disini bahwa musik mampu ‘menguasai’ kehidupan kita, baik atau buruk, musik memiliki koneksi penting dalam kehidupan manusia.
Manusia memiliki hubungan relasional dengan manusia lainnya dengan beragam cara dan perbedaan, tetapi dengan musik, ia dapat menembus segala batasan atau latar belakang relasional manusia. Hal ini dikarenakan musik merupakan bentuk kreativitas yang saling terpadu (baik ritme dan harmoni) sehingga manusia bisa saling berkomunikasi satu sama lain. Musik mampu mengekspresikan sifat emosional manusia.
Alkitab mencatat
1. Musa bernyanyi bersama bangsa Israel untuk merayakan kemenangan di seberang laut merah (Keluaran 15)
2. Yosua memimpin bangsa Israel berbaris dan bermain musik untuk meruntuhkan tembok Yerikho (Yosua 6: 6-27)
3. Daud menenangkan Saul yang kerasukan roh jahat dengan bermain musik (1 Samuel 18)
4. Yesus bernyanyi bersama dengan para muridNya
5. Kita pun akan bernyanyi bersama di Surga kelak (Wahyu 15)
Musik dalam ibadah menjadi sarana bagi orang Kristen untuk menanggapi dan merespon terhadap apa yang disingkapkan Alkitab tentang Allah. Musik juga menjadi sarana untuk mengekspresikan ucapan syukur atas kehidupan kita yang sudah diubahkan oleh kasih Tuhan. Salah satu contoh adalah penulis lagu “It Is Well With My Soul” yaitu Horatio Spafford, menulis lagu disaat ia harus mengalami berbagai tragedi tetapi ia mampu tetap bersyukur atas segala hal yang ia alami, selamatlah jiwaku (it is well with my soul)
Musik adalah ALAT yang penuh kuasa. Musik bisa merampok hati manusia, bisa membuat seseorang bertindak bodoh, tetapi…Musik bisa mengubah hati manusia yang putus asa menjadi berpengharapan kepada Tuhan.
Musik dan Pengabaran Injil merupakan partner yang harmonis. Beberapa sejarah mencatat adanya hubungan harmonis antara musik dan kehidupan penginjilan kepada umat Tuhan. Beberapa penginjil selalu menyertakan musik dalam setiap kotbah, KKR, kepada jemaatnya.
DL Moody dan Ira D Sankey, melalui kotbah dan musik yang menggugah iman orang-orang yang dijaman itu mengalami krisis kepercayaan dan penindasan, dengan musik, kasih Tuhan dapat disalurkan kepada mereka.
Contoh lainnya Billy Graham dan George Beverly Shea, dalam tiap KKR atau penginjilan yang disampaikan oleh Billy Graham. George Beverly Shea (Bev) memproduksi banyak album rohani dan menyertai setiap penginjilan yang disampaikan oleh sahabatnya Billy Graham, kerjasama mereka ini menyentuh hati dan menumbuhkan iman para jemaat, baik dalam kotbah maupun lantunan lagu yang dimainkan oleh suara bariton dari Bev. Menjadi bukti bahwa musik merupakan partner yang harmonis dalam mengabarkan injil Tuhan.
Nah, sebagai orang yang tidak pernah lepas dari musik, bagaimana kita bisa mempergunakannya untuk mengabarkan injil ?
Bagi kita yang hanya bisa menjadi penikmat musik, mulailah lebih peka terhadap bimbingan roh kudus melalui musik rohani yang kita dengarkan (dari CD,MP3,dll). Kita berdoa agar diberi kemampuan untuk mengisahkan apa yang telah kita dengarkan melalui musik rohani kepada orang lain, ataupun mengajak teman-teman atau orang disekeliling kita untuk menghadiri KKR atau konser musik rohani yang kita ketahui, sehingga orang lain pun dapat lebih bertumbuh dan peka bahwa kasih Tuhan selalu dicurahkan atas mereka.
Bagi kita yang memiliki talenta bermusik tetapi belum melayani, berdoalah dan minta tuntunan roh kudus untuk mengambil keputusan untuk melayani Tuhan. Giat berlatih dan ambillah bagian dalam pelayanan. Berdoa kepada Tuhan agar Ia buka kesempatan bagi kita untuk bisa melakukan pengabaran injil
Bagi kita yang sudah melayani dalam pelayanan musik, teruslah berdoa kepada Tuhan,mohon bimbingan agar motivasi kita melayani seturut dengan misi pengabaran injil kepada jemaatNya. Mengapa kita menginjili ? seperti dalam Matius 28 : 19-20, “Karena itu pergilah,jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Tetapi ingatlah bahwa bagi kita, sebagai umat pilihan Allah, pemberitaan injil merupakan hal yang pertama, kemudian musik menjadi yang kedua. Karena yang kita beritakan adalah firman Tuhan.

Semoga bermanfaat
Tuhan memberkati

A Good Conductor (Dirigen = Pemimpin Paduan Suara)

Dirigen = Pemimpin Paduan Suara
Menjadi seorang dirigen seringkali dianggap sebagi seorang pemimpin paduan suara, mengapa ?
Karena dia tidak hanya bertugas untuk menjadi dirigen yang sekedar memberikan aba-aba dalam suatu paduan suara, tetapi peranannya penting bagi kelompok tersebut.
Bagaimana kepemimpinan seorang dirigen terlihat dari awal dia memimpin paduan suara, melatih lagu, menyatukan tiap suara, waktu latihan yang berulang ulang, hingga saat mereka menampilkan lagu yang telah mereka latih selama ini.
Seorang dirigen yang baik seharusnya memahami dan mengikuti tiap proses paduan suara itu dari awal hingga mereka tampil. Kehadirannya sangat diperlukan bagi keberhasilan suatu performa. Yang saya maksud disini bukan disaat tampil saja, tetapi disetiap prose.
Kenapa saya menekankan hal ini ? Karena hal ini saya temui di paduan suara terbaru saya
Saya merasa cukup kecewa ketika pelatih paduan suara kami seringkali tidak hadir di sela latihan latihan terakhir pelayanan kami di gereja, padahal latihan tersebut dilakukan dengan seluruh pemusik.
Latihan bersama pemusik juga memiliki peranan penting agar terjadi kesinambungan antara pemusik dan paduan suara, karena kami tidak bisa jalan masing-masing. Nah, peran pemimpin paduan suara (dalam hal ini pelatih kami) seharusnya hadir dan memahami tiap angle,point,revisi, apapun yang mendukung keberlangsungan suatu penampilan, terlebih lagi dalam pelayanan gerejawi
Seorang pemimpin tidak bisa menitipkan kepada salah satu anggota untuk mencatatkan perubahan atau point-point apa yang akan terjadi antara pemusik dan paduan suara. Dia harusnya turut hadir dan memahami sendiri.
Sebisa mungkin dilatihan terakhir, kehadirannya dibutuhkan
Pemimpin/dirigen/pelatih paduan suara tidak cukup hanya hadir diawal dan tengah-tengah kemudian disaat tampil saja, tetapi hendaklah ia hadir disetiap prosesnya, sehingga ia – sebagai pemimpin, memahami dan mampu memberikan support baik bagi keberhasilan suatu pelayanan.
There are no bad choir,but there is bad coach, dont be one of them

Previous Older Entries